PERAN MANGROVE BAGI SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN DAN KETAHANAN PANGAN, ENERGI SERTA OBAT-OBATAN BAGI MASYARAKAT PEDESAAN DI PESISIR

Oleh

Cecep Kusmana

Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor

e-mail: cecep_kusmana@ipb.ac.id


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropika yang terdiri atas sekitar 17.504 buah pulau (28 pulau besar dan 17.475 pulau kecil) dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km (Kusmana, 2008) dengan kondisi fisik lingkungan dan iklim yang beragam.  Total luas wilayah Indonesia tersebut adalah sekitar 9 juta km2 yang terdiri atas 2 juta km2 daratan dan 7 juta km2 lautan (Polunin, 1983).  Oleh karena itu Indonesia mempunyai ekosistem pesisir yang luas dan beragam yang terbentang pada jarak lebih dari 5.000 km dari timur ke barat kepulauan dan pada jarak 2.500 km dari arah utara ke selatan kepulauan.  Sebagian besar daerah pantai pulau-pulau tersebut di atas merupakan tempat tumbuh mangrove yang baik, sehingga mangrove merupakan suatu ekosistem yang umum mencirikan morfologi sistem biologi pesisir di Indonesia, disamping padang lamun dan terumbu karang, yang memainkan peranan penting dalam perlindungan dan pengembangan wilayah pesisir.   Saat ini di Indonesia mangrove tumbuh di daerah pantai sekitar 257 kabupaten/kota. Pada tahun 1999, luas hutan mangrove Indonesia diperkirakan sekitar 9,6 juta ha yang terdiri atas 3,8 juta ha di dalam kawasan hutan dan 5,8 juta ha di luar kawasan hutan.

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai fungsi spesifik yang keberkelangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan. Dalam hal ini, mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan pelayanan lindungan lingkungan untuk menyangga sistem kehidupan masyarakat tersebut.

URGENSI MANGROVE DALAM KONTEK

KEMANDIRIAN HIDUP MASYARAKAT PEDESAAN DI PESISIR

Ada beberapa alasan yang melandasi pentingnya peranan sumberdaya mangrove dalam menunjang kemandirian hidup masyarakat pedesaan di pesisir, yaitu:

(1)      Ekosistem mangrove, baik secara sendiri maupun secara bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam menciptakan stabilitas suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik maupun secara ekologis.

(2)      Mangrove merupakan sumberdaya alam yang dapat dipulihkan (renewable resources atau flow resources) yang mempunyai manfaat ganda (manfaat ekonomis dan ekologis). Berdasarkan sejarah, sudah sejak dulu hutan mangrove merupakan penyedia berbagai keperluan hidup bagi masyarakat lokal di wilayah  pesisir nusantara. Selain itu, mangrove juga berperan sebagai penyedia jasa lindungan lingkungan (environmental services) bagi sistem penyangga kehidupan masyarakat pesisir tersebut.

Dengan demikian peranan mangrove dalam kontek kemandirian hidup masyarakat pesisir dapat ditelusuri dan dipahami dari fungsi mangrove itu sendiri.

FUNGSI MANGROVE

Mangrove menghasilkan berbagai macam barang/material (baik berupa kayu maupun hasil hutan bukan kayu) dan jasa lingkungan (oksigen penyerap polutan, pengendali abrasi dan interusi air laut, dan lain-lain) yang sangat bermanfaat secara ekonomis dan ekologis bagi kelangsungan kehidupan masyarakat pesisir dan kelestarian hasil beserta kelestarian fungsi ekosistem pesisir itu sendiri.

Secara garis besar, fungsi mangrove dapat dirinci pada level ekosistem dan level sumberdaya seperti di bawah ini:

  1. Fungsi mangrove pada level ekosistem
  1. Lindungan lingkungan ekosistem pantai secara global, yakni:

(1)      Proteksi garis pantai dari hempasan gelombang

Berdasarkan pengamatan di lapangan, hutan mangrove terbukti dapat meredam kekuatan energi gelombang pasang/tsunami. Utomo (2003) yang dikutip oleh Diposaptono dan Budiman (2008) mengemukakan bahwa hutan mangrove dengan kerapatan 5 %, tinggi 5 m dan tebal 50 m dapat meredam 52 % tinggi tsunami, 38 % energi tsunami, juga 14 %, 19 %, dan 22 % jarak run-up tsunami di atas muka air tenang berturut-turut untuk kemiringan pantai 50, 100, dan 150 . Hasil penelitian yang serupa ditegaskan pula oleh Harada dan Kawata (2004) yang melaporkan bahwa hutan pesisir yang terdiri atas mangrove, sagu, kasuarina, dan tegakan pohon kelapa dengan kerapatan 3.000 pohon per ha dengan diameter batang rata-rata 15 cm dan lebar hutannya sekitar 200 m dapat mengurangi tinggi gelombang tsunami sekitar 50-60 % dan kecepatan aliran tsunami sekitar 40-60 %. Mazda et al. (1997) sudah terlebih dahulu melaporkan efektivitas hutan mangrove dalam meredam kekuatan tsunami. Berdasarkan penelitian mereka tegakan hutan mangrove Kandelia candel berumur 6 tahun yang tumbuh dalam suatu jalur selebar 1,5 km dapat mengurangi tinggi gelombang setinggi 1 m di laut lepas menjadi hanya setinggi 0,05 m di pantai.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas terbukti bahwa vegetasi hutan, khususnya mangrove, dapat memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami.

(2)      Proteksi dari tiupan angin kencang

Fractional drag di atas kanopi mangrove adalah jauh lebih tinggi dibandingkan di atas permukaan air, sehingga semakin ke arah mangrove pedalaman kecepatan angin semakin berkurang. Saenger (2002) melaporkan bahwa mangrove yang tersusun oleh tegakan pohon dengan tinggi 3 – 5 m hanya sedikit mengalami kerusakan (1% dari jumlah pohon) akibat tiupan angin topan.

(3)      Mengatur sedimentasi

Davis (1940) berpendapat bahwa perakaran mangrove berfungsi sebagai penahan lumpur.  Kekontinyuan penimbunan bahan organik menguntungkan bagi pertumbuhan semai dan kelangsungan hidupnya tumbuhan mangrove.  Semai tumbuh dan menyebar ke arah laut seirama dengan proses penimbunan lumpur.

Sistem perakaran mangrove dapat mengurangi kecepatan arus air yang mengalir di lantai hutan, sehingga memberi kesempatan kepada partikel-partikel koloid tanah untuk mengendap di lantai hutan.  Wolanski et.al. (1997) mengemukakan bahwa mangrove berperan mengatur pergerakan sedimen melalui pengurangan daya erosif arus air, pengayaan deposit liat dan pengurangan daya resuspensi dari deposit liat sehingga mangrove dapat meningkatkan kualitas perairan dan produktivitas primer oleh melimpahnya fitoplankton.

(4)      Retensi nutrien

Ekisistem mangrove dapat berperan penting sebagai tempat penampung dissolve-nutrient, serta pengolah limbah organik (Boto dan Wellingston, 1983). Dalam hal ini banyak dibuktikan bahwa kesuburan tanah, kandungan hara serasah dan pertumbuhan tegakan mangrove jauh lebih baik di hutan-hutan mangrove yang banyak menerima input hara an-organik, terutama Nitrogen dan Posfor, daripada mangrove yang tidak mendapat input energi dari luar (Clough et al., 1983).

Dengan rapatnya batang-batang dan susunan perakaran mangrove, maka banyak partikel liat terdeposisi di zona mangrove, bersamaan dengan ini banyak nutrien yang berasal dari kolom badan air terserap dalam sedimen liat tersebut.  Hal ini selain mencegah hilangnya nutrien dari mangrove ke laut lepas juga memperbesar cadangan nutrien dalam sedimen mangrove tersebut.

(5)      Memperbaiki kualitas air

Secara umum, Snedaker (1978) mengemukakan bahwa mangrove menyediakan sumber detritus yang penting bagi ekosistem pantai dan estuaria yang mendukung berbagai organisme akuatik.

Perakaran mangrove berperan mengurangi materi tersuspensi dalam badan kolom air, bahkan mendeposisikannya, sehingga konsentrasi oksigen terlarut meningkat.  Selain itu, mangrove dapat menyerap dan mengurangi bahan pencemar (polutan) dari badan air baik melalui penyerapan polutan tersebut oleh jaringan anatomi tumbuhan mangrove maupun menyerap bahan polutan yang bersangkutan dalam sedimen lumpur (IUCN & E/P Forum, 1993 dalam Kusmana, 2009).

Kemampuan vegetasi mangrove dalam menyerap bahan polutan (dalam hal ini logam berat) telah dibuktikan oleh Darmiyati et. al. (1995) dalam Kusmana (2009), dimana jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap lebih dari 300 ppm Mn, 20 ppm Zn dan 15 ppm Cu. Begitu pula Saepulloh (1995) membuktikan bahwa pada daun Avicennia marina ditemukan akumulasi Pb sebesar ≥ 15 ppm, Cd ≥ 0,5 ppm dan Ni ≥ 2,4 ppm.

(6)      Mengendalikan intrusi air laut

Hilmi (1998) dalam Kusmana (2009) melaporkan bahwa jarak intrusi air laut di Pantai Jakarta meningkat drastis dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 m menjadi 4,24 km pada lokasi tanpa hutan mangrove.  Secara teoritis diperkirakan percepatan intrusi air laut meningkat 2 – 3 kali pada lokasi tanpa hutan mangrove.

(7)      Stabilitas iklim mikro

Komunitas mangrove tersusun oleh tegakan yang rapat dan ekstensif dapat menyebabkan pengendalian suhu yang relatif rendah di siang hari dan relatif lebih hangat di malam hari.  Selain itu kelembaban udara di bawah kanopi mangrove yang rapat relatif lebih tinggi dibandingkan di daerah terbuka. Evapotranspirasi dan reflektan panjang-gelombang panjang dari ekstensif kanopi mangrove yang rapat berkontribusi terhadap kelembaban dan densitas awan dalam skala regional, yang akhirnya berkontribusi terhadap curah hujan regional.

b.   Habitat  fauna, terutama  fauna  laut Menurut Chapman (1977), ekosistem mangrove menyediakan 5 (lima) tipe habitat bagi fauna, yakni:

(1)      Tajuk pohon yang dihuni oleh  berbagai jenis burung, mamalia dan serangga.

(2)      Lobang yang terdapat di cabang dan genangan air di “cagak” antara batang dan cabang pohon yang merupakan habitat yang cukup baik untuk serangga (terutama nyamuk).

(3)      Permukaan tanah sebagai habitat mudskip-per dan keong/kerang.

(4)      Lobang permanen dan semi permanen di dalam tanah sebagai habitat kepiting dan katak.

(5)      Saluran-saluran air sebagai habitat buaya dan ikan/udang.

Peranan penting dari ekosistem mangrove dalam menunjang kehidupan biota laut sudah diyakini secara luas. Tetapi, sebenarnya habi­tat utama dari ekosistem mangrove yang penting dan langsung menunjang kehidupan biota laut adalah saluran-saluran air (shallow bay, inlet dan channel) yang merupakan bagian integral dari ekosistem mangrove tersebut.  Dalam hal ini nampaknya vegetasi mangrove lebih berperan sebagai penyedia nutrisi melalui serasahnya bagi produktivitas primer saluran-saluran air tersebut.

Tingginya produktivitas primer hutan mang­rove salah satunya dapat dilihat dari produkti­vitas serasah hutan tersebut yang umumnya beberapa kali lipat produktivitas serasah tipe hutan daratan, yakni sekitar 5,7 sampai 25,7 ton/ha/th (Kusmana, 1993b). Kondisi habitat mangrove seperti ini mengakibatkan ekosistem mangrove berperan sebagai feeding, spawning dan nursery ground bagi berbagai jenis biota laut (khususnya ikan dan udang) untuk menghabiskan sebagian bahkan seluruh siklus hidupnya.

B. Fungsi mangrove pada level sumberdaya (primary biotic component)

a.   Fauna

Fauna yang berada di ekosistem mangrove terdiri atas fauna daratan dan fauna laut (Macnae, 1968).

(1)   Fauna Daratan

Umumnya fauna darat hanya menggunakan eko­sistem mangrove sebagai tempat mencari makan dan atau perlindungan. Di Indonesia dikenal hanya satu jenis fauna darat yang seluruh siklus hidupnya bergantung pada habitat mangrove, yaitu bekantan (Nasalis larvatus) yang penyebarannya terbatas di Kalimantan.

a)   Burung

Beberapa jenis burung yang berasosiasi dengan mangrove adalah Phalacrocorax carbo, P. melanogaster, P. niger, Anhinga anhinga, Egretta spp., Halcyon chloris, dan lain-lain.

b)   Amphibi  dan Reptilia

Jenis-jenis fauna amphibi yang sering ditemukan di mangrove adalah Rana cancrivora dan Rana limnocharis. Sedangkan jenis-jenis Reptilia yang sering dijumpai adalah Crocodilus porosus, Varanus salvator, Trimeresurus wagleri, T. purpureomaculatus,   Boiga. dendrophila,   Fordonia leucojbalia,   Bitia hydroides, Cerberus rhynchops, dan lain-lain.

c)   Mamalia

Beberapa jenis mamalia yang dijumpai di mangrove adalah Nasalis larvatus, Presbytis cristatus, Cercoppithecus mitis, Macaca irus, Sus scrofa, Kerpestes spp., dan lain-lain.

d)  Serangga

Banyak jenis serangga yang menghuni habitat mangrove, yang mana umumnya didominasi oleh nyamuk. Jenis-jenis serangga tersebut adalah semut, Aedes pembaensis, Anopheles spp., Culicoides spp., dan lain-lain.

(2)   Fauna  Laut

Fauna laut merupakan elemen utama dari fauna ekosistem mangrove. Fauna laut di mangrove terdiri atas dua komponen, yaitu infauna yang hidup di lobang-lobang di dalam tanah, dan epifauna yang bersifat mengembara di permukaan tanah.

Infauna umumnya didominasi oleh Crustaceae. Selain itu, komunitas infauna mangrove terdiri atas beberapa jenis Bivalvia dan satu genus ikan. Sedangkan komunitas epifauna mangrove didominasi Moluska (dalam hal ini Gastropoda) dan beberapa jenis kepiting.  Berbagai jenis fauna yang berasosiasi dengan mangrove tersebut merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan di pesisir.

b.     Flora

Menurut Umali et al. (1987) dalam Kusmana (2009), sampai saat ini dilaporkan sekitar 130 jenis tumbuhan di 11 negara Asia-Pasifik, diantaranya di Indonesia terdapat 101 jenis (Kusmana,  1993a).

Dalam skala komersial, berbagai jenis kayu mangrove dapat digunakan sebagai: (a) “chips” untuk bahan baku kertas, terutama jenis Rhizophora spp. dan Bruguiera spp., (b) penghasil industri papan dan plywood, terutama jenis Bruguiera spp. dan Heritiera littoralis; (c) tongkat dan tiang pancang (“scalfold“), terutama jenis Bruguiera spp., Ceriops spp., Oncosperma sp. dan Rhizophora apiculata; (d) penghasil energi (kayu bakar dan arang) yang berkualitas sangat baik.

Sudah sejak lama, berbagai jenis tumbuhan mangrove dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal untuk memenuhi kecukupan pangan dan obat-obatan herbal tradisional seperti dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal.

No. Jenis Kegunaan
1. Acanthus  ilicifolius Buah yang dihancurkan dalam air dapat digunakan untuk membantu menghentikan darah yang keluar dari luka dan mengobati luka karena gigitan ular.
2. Acrostichum aureum

Bagian tanaman yang masih muda dapat dimakan mentah atau dimasak sebagai sayuran.
3. Aegiceras  ccrniculatum Kulit dan bijinya untuk membuat racun ikan.
4. Avicennia alba

Daun yang masih muda dapat untuk  makanan ternak, biji­nya dapat dimakan jika direbus, kulitnya untuk obat tradisional (astringent), zat semacam resin yang dikeluarkan bermanfaat dalam usaha  mencegah kehamilan, salep yang dicampur cara membuatny dengan biji tumbuhan ini sangat baik untuk  mengobati luka penyakit cacar, bijinya sangat beracun sehingga hati-hati dalam memanfaatkannya.
5. Avicennia marina Daun yang  muda dapat dimakan/disayur,  polen dari bunganya dapat untuk menarik koloni-koloni kumbang penghasil madu yang diternakan, abu dari kayunya sangat  baik untuk  bahan baku dalam perabuatan sabun cuci.
6. Avicennia officinalis Biji dapat dimakan sesudah dicuci dan direbus.
7. Bruguiera gymnorzhiza Kayunya sangat berguna dalam industri arang/kayu bakar dan tannin, kulit batang yang masih muda dapat untuk menambah rasa sedap ikan yang masih segar, pneumarhophoranya dapat dipakai sebagai bibit dalam usaha reboisasi  hutan bakau.
8. Bruguiera parviflora Kayunya untuk arang dan kayu bakar.
9. Bruguiera sexangula Daun muda, embrio buah, buluh akar dapat dimakan sebagai sayuran, daunnya mengandung alkoloid yang dapat dipakai

untuk mengobati tumor kulit, akarnya dapat untuk kayu menyan, buahnya dapat untuk campuran obat cuci mata tradisional.

10. Ceriops tagal Kulit batang baik sekali untuk mewarnai dan sebagai bahan pengawet/penguat jala-jala ikan dan juga untuk industri batik, kayunya baik untuk industri kayu lapis (plywood), kulit batang untuk obat tradisional.
11. Excoecaria  agallocha Getahnya beracun dan dapat dipakai untuk meracun ikan.
12. Heritiera littoralis Kayunya baik untuk industri papan, air buahnya beracur dan dapat untuk meracuni ikan.
13. Lumnitzera  racemosa Rebusan  daunnya dapat untuk obat sariawan.
14. Oncosperma   tigillaria Batangnya untuk pancang rumah, umbut untuk sayuran, bunganya  dapat untuk menambah rasa sedap nasi.
15. Rhizophora mucronata. Kayunya untuk arang/kayu bakar dan chips. Air buar dan   kulit akar yangmuda dapat   dipakai  untuk mengusir nyamuk dari  tubuh/badan.
16. Rhizophcra  apiculata Kayunya untuk kayu bakar, arang, chips dan kayu konstruksi.
17. Sonneratia  caseolaris Buahnya dapat dimakan, cairan buah dapat untuk menghaluskan kulit, daunnya dapat untuk makanan kambing, dapat  menghasilkan pectine.
18. Xylocarpus woluccensis Kayunya baik sekali untuk papan, akar-akarnya dapat dipakai   sebagai bahan dasar kerajinan tangan (hiasar dinding, dll),     kulitnya untuk obat tradisional (diarhea), buahnya mengeluarkan minyak dapat  dipa­kai untuk minyak rambut tardisional.
19. Nipa fructicans Daun untuk atap rumah, dinding, topi, bahan baku kertas, keranjang dan pembungkus sigaret; nira untuk minuman dan alkohol, biji untuk jely dan sebagai kolang-kaling; dan pelepah yang dibakar untuk menghasilkan garam.

PENUTUP

Sebagai suatu negara kepulauan yang terdiri  terdiri atas sekitar 17.504 buah pulau dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km, Indonesia sepatutnya memposisikan mangrove sebagai sumberdaya alam terbarukan yang penting untuk mesejahterakan masyarakat khususnya masyarakat pesisir, dan menjaga keseimbangan kualitas lingkungan antara ekosistem daratan dan lautan yang berperan sebagai sistem penyangga kehidupan bagi masyarakat pesisir yang bersangkutan. Peran penting mangrove tersebut dapat tercipta dari multi manfaat yang dapat diperoleh dari ekosistem mangrove tersebut, baik manfaat ekonomi (penghasil berbagai produk barang berupa kayu dan hasil hutan bukan kayu berupa bahan pangan, obat-obatan, dan minuman), maupun manfaat ekologi/jasa lingkungan seperti penahan abrasi, pengendali intrusi air laut, dan lain-lain.

Khusus untuk masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil di lautan, sepatutnya pemerintah memfasilitasi dan menstimulasi upaya pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan kemandirian bahan pangan dan obat-obatan alamiah berbasis sumberdaya mangrove serta mengintroduksi teknologi inovasi untuk mengefesienkan tehnik ekstraksi dan meningkatkan produktivitas sumberdaya mangrove sekaligus memfasilitasi tata kelola kelembagaan untuk mejamin keberlanjutan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya mangrove tersebut. Hal ini dilakukan selain untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di pulau-pulau kecil juga sekaligus meningkatkan pertahanan keamanan rakyat semesta bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di daerah perbatasan.

DAFTAR PUSTAKA

Boto, K.G. dan J.T. Wellington. 1983. Phosporous and Nitro­gen Nutritional Status of A Northern Australian Mang­rove Forests. Mar. Ecol. Prog. Ser. 11: 63 – 69.

Clough, B.F., K.G. Boto dan P.M. Attiwil. 1983. Mangroves and Sewage: A Re-evaluation. Dalam Teas, H.J. (Ed.). Biology and Ecology of Mangroves, Tasks for Vegetation Science 8. Dr. W. Junk Publ. , The Hague, pp. 151 – 161.

Davis, J.H. Jr. 1940. The Ecology and Geologic Role of Mangroves in Florida. Papers from Tortugas Lab. 32. Carnegie Inst. Wash. Publ. 517: 305 – 412.

Diposaptono, S. dan Budiman. 2008. Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami. PT. Sarana Komunikasi Utama. Bogor.

Harada, K. dan Y. Kawata. 2004. Study on The Effect of Coastal Forest to Tsunami Reduction. Annuals of Disaster Prevention, Research Institute of Kyoto Univ. No. 47C.

Kusmana, C. 1993a. A Study on Mangrove Forest Management Based on Ecological Data in Eastern Sumatra, Indonesia. Ph.D. Dissertation, Faculty of Agriculture, Kyoto University, Japan. Unpublished.

————. 1993b. Management Guidelines for A Mangrove Forest in Eastern Sumatra, Indonesia. Makalah pada Seminar Nasional Konservasi dan Rehabilitasi Hutan Mangrove, INSTIPER Yogyakarta, tanggal 4-5 Mei 1993.

_______. 2008. Urgensi Mangrove dalam Pengelolaan ekosistem Pesisir. Kornas Departemen Kelautan dan Perikanan. Menado.

_______. 2009. Kontribusi Kegiatan Penelitian Mangrove terhadap Kemandirian Perekonomian Masyarakat Pesisir dan Keberlanjutan Ekosistem Bahari. Makalah.

Macnae, W. 1968. A General Account of The Fauna and Flora of Mangrove Swamps and Forests in The Indowest-Pacific Region. Adv. Mar. Biol. 6: 73 – 270.

Mazda, Y., M. Magi, M. Kogo and P.Ng. Hong. 1997. Mangrove as A Coastal Protection from Waves in The Tong King Delta, Vietnam. Mangroves and Salt Marshes 1:127-135.

Polunin, N.V.C. 1983. The Marine Resources of Indonesia. Oceonogr. Mar. Biol. Ann. Rev. 1983, 21:455-531.

Saenger, P. 1982. Morphological, Anatomical, and Reproductive Adaptations of Australian Mangroves. In: Clough, B.F. (Ed.), Mangrove Ecosystems in Australia. Australian National University Press, Canberra, pp. 153-191.

Saepulloh, C. 1995. Akumulasi Logam Berat (Pb, Cd, Ni) pada Jenis Aivennia marina di Hutan Lindung Mangrove Angke-Kapuk DKI Jakarta. Skripsi. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Snedaker, S.C. 1978. Mangroves: Their Value and Perpetua­tion. Nature and Resources 14: 6 – 13.

Wolanski, E., S. Spagnol dan E.B. Lim. 1997. The Importance of Mangrove Flocs in Sheltering Seagrass in Turbid Coastal Waters. Mangrove and Salt Marshes 1:187-191.

Tags: , ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.